Minggu, 28 Oktober 2012

Membuka Mata Batin&Ilmu laduni

ilmu kebatinan

Ilmu Kebatinan/ Kesaktian Telah Lama Diturunkan Oleh Moyang Kita. Cuma Ada Di Antaranya Telah Hilang Tanpa Diwarisi. Harap Koleksi Ini Dapat Berkongsi Dengan Anda Semua, Untuk Tujuan Yang Ikhlas Dan Jujur. Sebarang Akibat Yang Tidak Diduga Disebabkan Niat Jahat Adalah Atas Tanggungan Sendiri. Kita Bukan Ingin Mengajar Atau Menunjuk-nunjuk, Cuma Ingin Berkongsi Ilmu Warisan Nenek Moyang Yang Telah Lama Dilupai.

Sebarang kemusykilan sila rujuk pada tok guru/ bomoh sendiri. Selalu ingatlah siapa yang lebih BERKUASA. Sekian. "Janganlah hidup anda diselubungi misteri......"

Ilmu Terawangan Berguna untuk melihat alam gaib dan alam nyata dari jarak jauh serta untuk melihat kekuatan gaib atau energi yang ada pada benda, pusaka atau azimat. Syarat ilmu ini : ISLAM, yakin pada diri sendiri dan pada ALLAH, tekun berlatih dan sabar, tidak tergesa-gesa dan tidak cepat putus asa. Ritual Penyerapan Ilmu : Selama 1 minggu berturut-turut, anda wajib mengamalkan ayat di bawah ini setiap habis solat fardu.

1. LAA TUDRIKUHUL ABSHOORU WAHUWA YUDRIKUL ABSHOORO WAHUWAL LATHIIFUL KHOBIIR 100 X (Surat Al An'am ayat 103) 2. FAKASYAFNAA 'ANGKA GHITHOO-AKA FABASHORUKAL YAUMA HADIID 100 X
Dan tengah malamnya setelah solat sunnah hajat 2 rokaat baca ayat ke 1 di atas sebanyak 21 x dan ayat ke 2 di atas sebanyak 1000 x. Setiap malam selama 1 minggu tersebut.

Pada saat mengamalkan malam hari ini, harap pejamkan mata dan konsentrasilah pada titik pangkal hidung (pertemuan dua alis mata = Cakra Ajna). Praktek Latihan Terawangan :

Setelah selesai masa penyerapan ilmu, maka siapkan diri untuk melatih atau praktek terawangan. Lakukan pada tengah malam, atau setelah solat maghrib atau menjelang subuh. Carilah ruang tempat yang sunyi dalam keadaan gelap (matikan lampu). Lebih baik lagi berlatihlah di tempat angker/seram.

* Setelah berwudu', duduk sila menghadap kiblat, pejamkan mata. Sebaiknya membakar kemenyan atau buhur * Lakukan pernafasan normal, halus panjang dan perlahan (seirama keluar dan masuknya nafas)

* Seraya memusatkan pandangan pada titik pangkal hidung, bacalah niat :

"Ya ALLAH, berilah hamba kemampuan melihat dengan mata bathin sesuatu yang tidak mampu dilihat mata zhohir"

* Lalu baca ayat ke 1 di atas sebanyak 21 x dan ayat ke 2 di atas sebanyak 21 x

* Nikmati dengan rasa tenang suasana tersebut, perhatikan adanya titik cahaya pada pangkal hidung. Pandanglah titik cahaya tersebut dengan konsentrasi * Kemudian tetap dengan nafas yang teratur dan seirama, tentukan obyek yang akan anda coba terawang, seraya di dalam hati mengucapkan kalimat : Laa ilaaha illallaah berulang-berulang

* Biasanya titik cahaya itu makin lama semakin membesar. * Ingat, gunakan mata bathin anda, jadi mata fisik tetap terpejam dan jangan terpengaruh dengan keadaan sekitar

* Apabila belum tergambar jelas hasil terawangan anda, maka ulangi kegiatan tersebut pada malam-malam berikutnya. Koreksi setiap kelakuan anda yang belum baik untuk membersihkan mata bathin anda. Tekun dan bersabarlah dalam berlatih.

Catatan : - Biasanya bagi anda yang berbakat, dalam masa penyerapan ilmu pun sudah dapat melihat alam gaib - Pengamalan kedua ayat tersebut sebaiknya dipertahankan untuk menambah dan merawat daya mata bathin. Tetapi cukup diamalkan setiap habis solat subuh dan maghrib, masing-masing cukup 7 x -

Tiap tengah malam, usahakan untuk mengamalkan ayat ke 2 di atas sebanyak 1000 x setelah solat sunnah hajat 2 rokaat ALTERNATIF RIYADHOH MEMBUKA MATA BATIN Kami tunjukkan kepada anda semua cara membuka mata batin dengan mendapatkan diri / bertaqorrub kepada Allah Swt.

a) Berpuasalah 7 Isnin, 7 Khamis tanpa putus. Jadi setiap hari Isnin dan Khamis, anda harus berpuasa berturutan sampai 7 kali Isnin dan 7 kali Khamis tanpa putus.

Hidarilah makanan yang asalnya bernyawa. Mulailah puasa pada hari Isnin bertarikh 12 atau 13 hari bulan atau 14 Hijriyah pada saat bulan masih mengambang. Jangan sampai memulai puasa pada saat tanggal 15, saat bulan purnama. - Sediakan air hujan secukupnya. - Khusus pada hari Isnin Permulaan Puasa, anda harus melakukan ritual ini pada pukul 2400 tengah malam. - Solat hajat khusus, Selesai salam, tulis asma ini 52 X pada piring kaca, lalu lebur dengan air hujan sampai benar-benar terhapus: - Kemudian anda minumnya sambil membaca : “Alaa Ya’lamu man Kholaq, Wahuwal-Lathiful Khobir” “3 X

b)Tentunya di dahului dengan membaca Bismilah.

c) Pada saat puasa , setelah selesai solat Isya' anda harus mewiribkan : “ Ya Khobiir” 812 X - Selawat ini 41 X “ALLAHUMMA SHOLLI'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD SHOALAATAN TUTHLI'ANA BIHAA MAQOSHIDAL QULUBI WATUKSYIFUNA QULUUBI WABAARIK WASALLAM”
d) Pada saat puasa, setelah melakukan solat hajat khusus, anda harus mewiribkan 9 asma Husna 41 X,

Pada hari Isnin permulaan puasa, amalan no.3 tetap di kerjakan sebelum ritual khusus (sesudah Isya') dan amalan point no.4 di kerjakan setelah melalukan ritual khusus.

e) Sedang untuk hari-hari biasa, baik antara laku atau mati nanti sesudah menjalani 7 Isnin - 7 Khamis, anda harus mengamalkan secara rutin : - Setiap selepas sholat Magrib : - 9 Asma ‘ul Husna X 5 - Yaa Khobir X 11 - Sholawat X

7 - Tiap selesai solat fardu maka :- -

Baca Yaa Bathiinu 200 X atau langsung 1000 X sekali Gus

Hakikat Ilmu Laduni

Kaum sufi telah memproklamirkan keistimewaan ilmu laduni. Ia merupakan ilmu yang paling agung dan puncak dari segala ilmu. Dengan mujahadah, pembersihan dan pensucian hati akan terpancar nur dari hatinya, sehingga tersibaklah seluruh rahasia-rahasia alam ghaib bahkan bisa berkomunikasi langsung dengan Allah, para Rasul dan ruh-ruh yang lainnya, termasuk nabi Khidhir. Tidaklah bisa diraih ilmu ini kecuali setelah mencapai tingkatan ma’rifat melalui latihan-latihan, amalan-amalan, ataupun dzikir-dzikir tertentu.
Ini bukan suatu wacana atau tuduhan semata, tapi terucap dari lisan tokoh-tokoh tenar kaum sufi, seperti Al Junaidi, Abu Yazid Al Busthami, Ibnu Arabi, Al Ghazali, dan masih banyak lagi yang lainnya yang terdapat dalam karya-karya tulis mereka sendiri.
Al Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin 1/11-12 berkata: “Ilmu kasyaf adalah tersingkapnya tirai penutup, sehingga kebenaran dalam setiap perkara dapat terlihat jelas seperti menyaksikan langsung dengan mata kepala … inilah ilmu-ilmu yang tidak tertulis dalam kitab-kitab dan tidak dibahas … “. Dia juga berkata: “Awal dari tarekat, dimulai dengan mukasyafah dan musyahadah, sampai dalam keadaan terjaga (sadar) bisa menyaksikan atau berhadapan langsung dengan malaikat-malaikat dan juga ruh-ruh para Nabi dan mendengar langsung suara-suara mereka bahkan mereka dapat langsung mengambil ilmu-ilmu dari mereka”. (Jamharatul Auliya’: 155)
Abu Yazid Al Busthami berkata: “Kalian mengambil ilmu dari orang-orang yang mati. Sedang kami mengambil ilmu dari Allah yang Maha Hidup dan tidak akan mati. Orang seperti kami berkata: “Hatiku telah menceritakan kepadaku dari Rabbku”. (Al Mizan: 1/28)
Ibnu Arabi berkata: “Ulama syariat mengambil ilmu mereka dari generasi terdahulu sampai hari kimat. Semakin hari ilmu mereka semakin jauh dari nasab. Para wali mengambil ilmu mereka langsung dari Allah yang dihujamkan ke dalam dada-dada mereka.” (Rasa’il Ibnu Arabi hal. 4)
Dedengkot wihdatul wujud ini juga berkata: “Sesungguhnya seseorang tidak akan sempurna kedudukan ilmunya sampai ilmunya berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla secara langsung tanpa melalui perantara, baik dari penukilan ataupun dari gurunya. Sekiranya ilmu tadi diambil melalui penukilan atau seorang guru, maka tidaklah kosong dari sistim belajar model tersebut dari penambahan-penambahan. Ini merupakan aib bagi Allah ‘Azza wa Jalla – sampai dia berkata – maka tidak ada ilmu melainkan dari ilmu kasyaf dan ilmu syuhud bukan dari hasil pembahasan, pemikiran, dugaan ataupun taksiran belaka”.


Ilmu Laduni Dan Dampak Negatifnya Terhadap Umat

Kaum sufi dengan ilmu laduninya memiliki peran sangat besar dalam merusak agama Islam yang mulia ini. Dengannya bermunculan akidah-akidah kufur -seperti diatas – dan juga amalan-amalan bid’ah. Selain dari itu, mereka secara langsung ataupun tidak langsung terlibat dalam kasus pembodohan umat. Karena menuntut ilmu syar’i merupakan pantangan besar bagi kaum sufi. Berkata Al Junaidi: “Saya anjurkan kepada kaum sufi supaya tidak membaca dan tidak menulis, karena dengan begitu ia bisa lebih memusatkan hatinya. (Quutul Qulub 3/135)
Abu Sulaiman Ad Daraani berkata: “Jika seseorang menuntut ilmu hadits atau bersafar mencari nafkah atau menikah berarti ia telah condong kepada dunia”. (Al Futuhaat Al Makiyah 1/37)
Berkata Ibnul Jauzi: “Seorang guru sufi ketika melihat muridnya memegang pena. Ia berkata: “Engkau telah merusak kehormatanmu.” (Tablis Iblis hal. 370)
Oleh karena itu Al Imam Asy Syafi’i berkata: “Ajaran tasawuf itu dibangun atas dasar rasa malas.” (Tablis Iblis:309)
Tak sekedar melakukan tindakan pembodahan umat, merekapun telah jatuh dalam pengkebirian umat. Dengan membagi umat manusia menjadi tiga kasta yaitu: syariat, hakekat, dan ma’rifat, seperti Sidarta Budha Gautama membagi manusia menjadi empat kasta. Sehingga seseorang yang masih pada tingkatan syari’at tidak boleh baginya menilai atau mengkritik seseorang yang telah mencapai tingkatan ma’rifat atau hakekat.

Syubhat-Syubhat Kaum Sufi Dan Bantahannya

1. Kata laduni mereka petik dari ayat Allah yang berbunyi:
وَعَلَمَّنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
“Dan kami telah ajarkan kepadanya (Nabi khidhir) dari sisi Kami suatu ilmu”. (Al Kahfi: 65)
Mereka memahami dari ayat ini adanya ilmu laduni sebagaimana yang Allah anugerahkan ilmu tersebut kepada Nabi Khidhir. Lebih anehnya mereka meyakini pula bahwa Nabi Khidhir hidup sampai sekarang dan membuka majlis-majlis ta’lim bagi orang-orang khusus (ma’rifat).
Telah menjadi ijma’ (kesepakatan) seluruh kaum muslimin, wajibnya beriman kepada nabi-nabi Allah tanpa membedakan satu dengan yang lainnya dan mereka diutus khusus kepada kaumnya masing-masing. Nabi Khidhir diutus untuk kaumnya dan syari’at Nabi Khidhir bukanlah syari’at bagi umat Muhammad. Rasulullah bersabda:
كَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
“Nabi yang terdahulu diutus khusus kepada kaumnya sendiri dan aku diutus kepada seluruh umat manusia” (Muttafaqun ‘alaihi)
Allah berfirman (artinya):
“Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan peringatan”. (As Saba’: 28)
Adapun keyakinan bahwa Nabi Khidhir masih hidup dan terus memberikan ta’lim kepada orang-orang khusus, maka bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Allah berfirman (artinya): “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). (Al Anbiya’: 34)
Rasulullah bersabda:
مَا مِنْ مَنْفُوْسَةٍ اليَوْمَ تَأْتِيْ عَلَيْهَا مِائَةُ سَنَةٍ وَهِيَ يَوْمَئِذٍ حَيَّةٌ
“Tidak satu jiwapun hari ini yang akan bertahan hidup setelah seratus tahun kedepan”. (H.R At Tirmidzi dan Ahmad)
Adapun keyakinan kaum sufi bahwa seseorang yang sudah mencapai ilmu kasyaf, akan tersingkap baginya rahasia-rahasia alam ghaib. Dengan cahaya hatinya, ia bisa berkomunikasi dengan Allah, para Rasul, malaikat, ataupun wali-wali Allah. Pada tingkatan musyahadah, ia dapat berinteraksi langsung tanpa adanya pembatas apapun.
Cukup dengan pengakuannya mengetahui ilmu ghaib, sudah bisa dikatakan ia sebagai seorang pendusta. Rasul e adalah seorang yang paling mulia dari seluruh makhluk Allah, namun e tidaklah mengetahui ilmu ghaib kecuali apa yang telah diwahyukan kepadanya.
“Dia (Allah) yang mengetahui ilmu ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan seseorangpun tentang yang ghaib kecuali dari para rasul yang diridhai-Nya”. (Al Jin: 25-26)
Apalagi mengaku dapat berkomunikasi dengan Allah atau para arwah yang ghaib baik lewat suara hatinya atau berhubungan langsung tanpa adanya pembatas adalah kedustaan yang paling dusta. Akal sehat dan fitrah suci pasti menolaknya sambil berkata: “Tidaklah muncul omongan seperti itu kecuali dari orang stres saja”. Kalau ada yang bertanya, lalu suara dari mana itu? Dan siapa yang diajak bicara? Kita jawab, maha benar Allah dari segala firman-Nya: “Apakah akan Aku beritakan, kepada siapa syaithan-syaithan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithan) itu, dan kebanyakan mereka orang-orang pendusta”. (Asy Syu’ara: 221-223)
2. Sebagian kaum sufi berkilah dengan pernyataannya bahwa ilmu laduni (Al Kasyaf) merupakan ilham dari Allah (yang diistilahkan wangsit). Dengan dalih hadits Nabi Muhammad:
إِنَّهُ قَدْ كَانَ قَبْلَكُمْ فِيْ الأَمَمِ مُحَدَّثُوْنَ فَإِنْ يَكَنْ فِيْ أُمَّتِي أَحَدٌ فَعُمَر
“Dahulu ada beberapa orang dari umat-umat sebelum kamu yang diberi ilham. Kalaulah ada satu orang dari umatku yang diberi ilham pastilah orang itu Umar.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Hadits ini sama sekali tidak bisa dijadikan hujjah bagi mereka. Makna dhohir hadits ini, menunjukkan keberadaan ilham itu dibatasi dengan huruf syarat (kalaulah ada). Maksudnya, kalaupun ada di umat ini, pastilah orang yang mendapatkan ilham adalah Umar Ibnul Khathab. Sehingga beliau digelari al mulham (orang yang mendapatkan ilham). Dan bukan menunjukkan dianjurkannya cari wangsit, seperti petuah tokoh-tokoh tua kaum sufi. Bagaimana mereka bisa memastikan bisikan-bisikan dalam hati itu adalah ilham? Sementara mereka menjauhkan dari majlis-majlis ilmu yang dengan ilmu syar’i inilah sebagai pemisah antara kebenaran dengan kebatilan.
Mereka berkilah lagi: “Ini bukan bisikan-bisikan syaithan, tapi ilmu laduni ini merubah firasat seorang mukmin, bukankah firasat seorang mukmin itu benar? Sebagaimana sabda Rasulullah e: “Hati-hati terhadap firasat seorang mukmin. Karena dengannya ia melihat cahaya Allah”. (H.R At Tirmidzi)
Hadits ini dho’if (lemah), sehingga tidak boleh diamalkan. Karena ada seorang perawi yang bernama Athiyah Al Aufi. Selain dia seorang perawi yang dho’if, diapun suka melakukan tadlis (penyamaran hadits).
Singkatnya, ilham tidaklah bisa mengganti ilmu naqli (Al Qur’an dan As Sunnah), lebih lagi sekedar firasat. Ditambah dengan adanya keyakinan-keyakinan batil yang ada pada mereka seperti mengaku mengetahui alam ghaib, merupakan bukti kedustaan diatas kedustaan. Berarti, yang ada pada kaum sufi dengan ilmu laduninya, bukanlah suatu ilham melainkan bisikan-bisikan syaithan atau firasat rusak yang bersumber dari hawa nafsu semata. Disana masih banyak syubhat-syubhat mereka, tapi laksana sarang laba-laba, dengan fitrah sucipun bisa meruntuhkan dan membantahnya.

HADITS-HADITS DHO’IF DAN PALSU YANG TERSEBAR DI KALANGAN UMAT

Hadits Ali bin Abi Thalib:
عِلْمُ الْبَاطِنِ سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَحُكْمٌ مِنْ أَحْكَامِ اللهِ ، يَقْذِفُهُ فِيْ قُلُوْبِ مَنْ يَشَاءَ مِنْ عِبَادِهِ
“Ilmu batin merupakan salah satu rahasia Allah ‘Azza wa Jalla, dan salah satu dari hukum-hukum-Nya yang Allah masukkan kedalam hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya”.
Keterangan:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Al Wahiyaat 1/74, beliau berkata: “Hadits ini tidak shahih dan secara mayoritas para perawinya tidak dikenal”. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “Ini adalah hadits batil”. Asy Syaikh Al Albani menegaskan bahwa hadits ini palsu. (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no 1227)
dalam sehari.

f) Agar lebih cepat merasakan hasilnya, tolong anda hindari daging dan telor dalam makanan sehari-hari anda. Menghindari di sini. Ini bukan berarti menindakkan sama sekali,

g) Apabila suatu saat anda ingin mengetahui hal-hal yang sifatnya tersembunyi / ghaib, maka bacakanlah : - Al-Fatihah 1 X - Yaa Khobir 1 X - Sholawat 1 X

2 komentar: